post

Pengalaman Bermain Demo Biwar: Legend of Dragon Slayer

Saat ini Indonesia sudah memiliki berbagai jenis Game Indie buatan anak bangsa. Bahkan genrenya pun sudah beragam dan memiliki karakteristiknya tersendiri.

Salah satu game yang paling kita kenal akan kengerian dan terkenal di ranah internasional ialah Dreadout seri pertama dan juga kedua. Game buatan indie tersebut sudah berhasil menyita perhatian banyak orang.

Kali ini ada salah satu game yang memiliki potensi serupa dengan hal itu. Perkenalkan Biwar: Legend of Dragon Slayer, game ini dibesut oleh game developer asal Bali, yaitu Devata Game Production.

Memperkenalkan Game dengan Unsur Budaya yang Khas

Asal muasal tema serta konsep dari game ini berasal dari sebuah cerita legenda asal Papua, tepatnya dari Mimika. Dalam ceritanya mengisahkan seorang pemuda yang sedang mencoba memburu seekor Naga demi melepaskan kutukan serta membalaskan dendam keluarganya.

Dalam awal trailernya sendiri tidak ada yang bisa kita lihat seberapa dalam unsur intriknya. Namun, sejauh yang kita telah ketahui game ini benar-benar menerapkan mitologi budaya setempat yang sepenuhnya diangkat dari kisah-kisah di Indonesia.

Perilisan game Biwar: Legend of Dragon Slayer  ini juga akan tersedia untuk console khusunya PS4 dan PS5 serta PC.

Versi Awal Perilisan Demo Pre-Alpha

Bagi kalian yang ingin mencoba bagaimana sensasi bermain game ini, kalian cukup beruntung karena beberapa hari yang lalu pihak Devata Game Production ini telah mengeluarkan demonya. Demo ini bisa kalian coba karena terbuka untuk publik.

Ukuran game ini sebesar 5GB, jadi bagi kalian yang ingin mendownload versi demonya persiapkanlah jaringan yang bagus untuk memperlancar proses pendwonloadan game ini.

Penggunaan Unreal Engine 4

Kami cukup beruntung karena bisa mencoba versi demonya. Pada awal mencoba game ini kami melihat bagaimana bentuk visual di dalamnya dan memang terbilang cukup bagus. Semua itu berkat dukungan dari Unreal Engine 4 yang memiliki berbagai fitur visual untuk membantu mengoptimalkan visual game.

Unsur dalam Game

Dunia dalam Biwar: Legend of Dragon Slayer sebenarnya cukup lekat dengan unsur budaya Indonesia yang kental akan hutan hujan tropisnya. Pengalaman bermain di dalam hutan dan juga musuh yang berpakaian selayaknya orang pedalaman adalah musuh yang kita lawan.

Banyak sekali unsur yang mengaitkan legenda-legenda ataupun mitos setempat. Seperti setan dalam beberapa kepercayaan setempat, makhluk-makhluk mitos, dan penggunaan senjata yang masih sangat tradisional seperti; kampak, perisai kayu, busur panjang.

Mudahnya adalah bayangkan jika kalian mendengar kisah ataupun cerita rakyat sekitar lalu masuk ke dalamnya. Seperti itulah kesan pertama dari game ini.

Sistem UI dalam game ini menurut kami juga cukup dekat dengan salah satu game yang sebelumnya mendapatkan penghargaan Game of The Year, yaitu God of War (2018). Seperti desain HP bar yang sederhana dan stamina.

Kekuarangan dalam Game

Setelah kami mencoba game dengan durasi yang pendek ini dan mencari kekurangannya. Setidaknya ada cukup banyal bug yang bisa kami temukan.

Ketika sang karakter berlari atau melakukan gerakan, Bar Stamina yang terletak di bawah Bar HP sama sekali tidak berkurang. Hal ini awalnya kami kira biasa karena baru awal-awal, tetapi setelah mencobanya berulang-ulang Bar Staminanya sama sekali tidak berkurang.

Ada banyak sekali catatan yang perlu Devata Game Production tulis untuk memperbaiki game ini ke depannya. Pertama sudah dijelaskan pada tahapan Bar Stamina yang tidak berkurang begitu karatker bergerak, gerakan animasi yang masih terkesan kaku dan patah-patah, meski memiliki gerakan penghabisan, tetapi semua itu tidak menutup bagaimana kesalnya kami ketika mencoba bertarung dengan musuh.

Selanjutnya adalah bug pada kamera yang selalu lock pada satu target dan tidak bisa kami ubah. Ini adalah masalah yang serius jika mengingat game ini mengusung tema pertarungan sebagai main plotnya.

Kemudian disusul oleh perubahan transisi yang menurut kami kurang mulus dan terkesan agak sedikit rusak. Sangat tidak alami ketika mencoba memasuki gua ataupun lorong, baik masuk dan keluarnya. Lalu ada pun kontrolernya yang kurang responsif dan cukup berat untuk kami kami mainkan.

Sebenarnya bug seperti ini memang sering terjadi, tetapi akan lebih baik jika pihak Devata Game Production dapat memperbaikinya secepat mungkin.

Saran kami ialah kembali mengoptimalkan bagian ini lebih mendalam lagi agar tidak terjadi kesalahan yang saman.